Minggu, 27 Oktober 2013

pengorganisasian struktur manajemen dan akutalisasi dalam manajemen

A. Definisi Pengorganisasian
Argandoña (2003) menyebutkan organisasi sebagai sekelompok orang yang bekerja secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama melalui suatu wadah tertentu. Bagi organisasi, orang-orang merupakan sumber utama pengetahuan, yang mana pengetahuan ini akan didistribusikan, dipertukarkan, dan disempurnakan melalui interaksi antar anggota, untuk mencapai tujuan organisasi (Deng dan Tsacle, 2003). Melalui
pembelajaran, manusia akan menjalani proses pengembangan karakter yang memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki (Berkowitz dan Bier, 2004). Dalam
konteks ini, partisipasi aktif setiap anggota organisasi dalam proses pembelajaran akan merepresentasikan organisasi pembelajar (Winter, 2000).
  Definisi Struktur Organisasian
Penelitian (Sudharatna dan Lie, 2004; Tjakraatmadja, 2006) tentang organisasi pembelajar pada industri jasa telepon seluler (mobile phone) Thailand menunjukkan korelasi positif antara karakteristik organisasi pembelajar dengan kesigapan organisasi untuk berubah. Selain itu, penelitian ini, memaparkan karakteristik organisasi pembelajar, yang meliputi culture value, leadership commitment and empowerment, communication, employee characteristics dan performance upgrading. Hasil temuan ini mengindikasikan bahwa sebuah organisasi yang memiliki karakteristik organisasi pembelajar yang kuat juga memiliki tingkat yang tinggi dalam kesiapan organisasi untuk berubah. Hasil
temuan ini memperkuat pernyataan bahwa penting bagi sebuah organisasi untuk berkembang menjadi organisasi pembelajar agar mampu tetap bertahan dalam
lingkungan bisnis yang mengalami perubahan. Konsep disiplin organisasi pembelajar Senge ini sejalan dengan konsep Argyris (1999) yang mengemukakan bahwa
untuk membangun organisasi pembelajar dibutuhkan manusia-manusia yang memiliki kompetensi tinggi.
Pengorganisasian Sebagai Fungsi Manajemen
Adanya koordinasi yang kuat dan komunikasi yang lancar antar karyawan dalam suatu perusahaan sangat dibutuhkan demi kemajuan suatu perusahaan. Untuk memenuhi hal tersebut dalam manajemen diperlukan suatu pengorganisasian yang sangat teratur. Kemajuan suatu perusahaan dapat tercapai jika terbentuk pengorganisasian yang teratur mengingat dengan pengorganisasian semua pekerjaan dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Artinya dengan pengorganisasian dapat menghemat waktu dan tenaga kita untuk bekerja sehingga kita dapat mengerjakan pekerjaan yang lebih penting karena pekerjaan yang lainnya dapat dilakukan oleh orang lain.
Dalam pengorganisasian menghendaki adanya pembagian kerja atu spesialisasi, sesuai dengan teori klasik adam smith yaitu “ the right man in the right place “ artinya seseorang yang memiliki keahlian tertentu harus dipekerjakan atau ditempatkan pada keahliannya. Misalnya orang yang ahli dalam bidang administrasi harus ditempatkan di bagian administrasi pula, begitu juga dengan orang yang ahli dalam bidang keuangan harus ditempatkan pada bagian keuangan pula. Artinya dalam pembagian kerja itu harus benar-benar dilakukan dengan cermat. Nah dalam bab pembahasan akan dibahas mengenai fungsi pengorganisasian secara lebih rinci lagi.
Manfaat struktur fungsional dan struktur divisional
Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi danantropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan.
  • Teori fungsionalisme struktural adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer.
  • Teori struktural fungsional berkaitan erat dengan sebuah struktur yang tercipta dalam masyarakat. Struktural – fungsional, yang berarti struktur dan fungsi. Artinya, manusia memiliki peran dan fungsi masing – masing dalam tatanan struktur masyarakat
Pemikiran structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup.

Kerugian struktur fungsional dan struktur divisional
Struktur organisasi fungsional ini mempunyai  beberapa kelebihan, antara lain:
  • Efisiensi melalui spesialisasi
  • Komunikasi dan jaringan keputusannya relatif sederhana
  • Mempertahankan tingkat pengendalian strategi pada level manajemen puncak
  • Mempermudah pengukuran output dan hasil dari setiap fungsi
Sedangkan kekurangan dari struktur organisasi fungsional adalah:
  • Dapat mendorong timbulnya persaingan dan konflik antar fungsi
  • Mengakibatkan sulitnya koordinasi di antara bidang-bidang fungsional
  • Dapat menyebabkan tingginya biaya koordinasi antar fungsi
  • Identifikasi karyawan dengan kelompok spesialis dapat membuat perubahan menjadi sulit
b. actuating dalam manajemen
Fungsi Pengarahan (Actuating)
     Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang
mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya
secara etektit serta efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Di dalam
manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut
manusia juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri.
     Manusia dengan berbagai tingkah lakunya yang berbeda-beda. Ada beberapa prinsip
yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan dalam melakukan pengarahan yaitu :
1.  Prinsip mengarah kepada tujuan
2.  Prinsip keharmonisai dengan tujuan
3. Prinsip kesatuan komando
     Pada umumnya pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan
maksud agar mereka bersedia untuk bekerja sebaik mungkin, dan diharapkan tidak
menyimpang dari prinsip-prinsip di atas.
     Cara-cara pengarahan yang dilakukan dapat berupa :
1. Orientasi
Merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya
kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
2. Perintah 
Merupakan permintaan dri pimpinan kepada orang yang berada di bawahnya
untuk melakukan atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan
tertentu.
3. Delegasi wewenang
Dalam pendelegasian wewenang ini pimpinan melimpahkan sebagian dari
wewenang yang dimilikinya kepada bawahannya.


          Samuel C. Certo & J.Paul Peter, Strategic Management, McGraw-Hill, 1990, p.125.
Argandoña, Antonio. 2003. Fostering Values in Organizations.
Journal of Business Ethics, Vol. 45, No. 1/2, 15th Annual Eben
Conference: “Sustaining Humanity Beyond Humanism” (June).
Argyris, Chris. 1999. On Organization Learning, Williston, Vermont,
USA: Blackwell Publication.
Berkowitz, Marvin W. dan Melinda C. Bier. 2004. Research-Based
Character Education. Annals of the American Academy of Political
and Social Science, Vol. 591, Positive Development: Realizing
the Potential of Youth (January).
Deng, P.S. dan E. G. Tsacle. 2002. A Market-Based Computational
Approach to Collaborative Organizational Learning. The Journal
of the Operational Research Society, Vol. 54, No. 9, Part Special
Issue: Modelling Organizational Knowledge http://passriograzio.blogspot.com/2012/03/actuating-dalam-manajemen.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar