Rabu, 07 Mei 2014

psikoterapi ke-3

Analisis Transaksional




 Eric Berne adalah pelopor dari analisis transaksional, ia di lahirkan di Montreal, Canada pada tahun 1910 dan meninggal di usia 60 tahun pada 1970. Eric mulai mengembangkan AT ini sebagai terapi ketika ia bertugas dalam Dinas Militer Amerika Serikat dan diminta untuk membuka program terapi kelompok bagi serdadu yang mendapat gangguan emosional sebagai akibat perang dunia ke-2.
Analisis transaksional berevolusi dari ketidakpuasan Berbe dengan lembatnya psikonalisis dalam menyembuhkan orang-orang dari masalah mereka. Pada pertengahan tahun 50-an Eric baru memperkenalkan teorinya yaitu Analisis transaksiona. Teori ini mendapat sambutan yang sangat baik dari kalangan ahli terapi kelompok tahun 1957.
Prinsip-prinsip yang dikembangkan Eric dalam analisis transaksional adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atasa tingkah lakunya sendiri, pemikiran logis, rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.
Analisis transaksional merupakan psikoterapi yang dapat digunakan dalam konseling individual maupun klasikal (kelompok). Analisis transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Analisis transaksional berfokus pada keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh kilen dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan-keputusan baru. Analisis transaksional merupakan aspek-aspek  kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya. Berne menemukan bahwa dengan menggunakan Analisis transaksional kliennya membuat peruubahan signifikan dalam kehidupan mereka.

ASUSMI DASAR
Pendekatan Analisis transaksional berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktiral dan transaksioanal. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, dewasa, anak. Sifat konraktual proses terapeutik Analisis transaksional cenderung memepersamakan kedudukan konselor dan klien. Klien bertanggung jawab untuk menentukan apa yang ia ingin ubah.
Pada dasarnya, analisis transaksioanal berasumsi bahwa manusia itu :
1.      Memiliki pilihan-pilihan dan tidak terbelenggu oleh masa lampaunya (manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihannya)
2.       Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemprograman awal (manusia dapat berubah asalkan dia mau)
3.      Manusia bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berfikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya
4.      Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebiasaan dan menyelekasi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.
5.      Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan daro orang-orang lain
6.      Manusia dilahirkan bebas, teyapi slah satu yang pertama dipelajari adalah berbuat sebagaimana yang diperintahkan

Dalam teorinya, eric berne mengenukakan suatu istilah yang disebut stroke (tanda perhatian). Menurutnya stroke dapat dibedakan menjadi :
1.      Stroke positif
Stroke positif merupakan segala bentuk perhatian yang secara langsung dapat memperkuat motivasi dan kegairahan dalam kehidupannya.
Misalnya : belaian, ciuman, senyuman, tepukan, piagam suatu prestasi dll.
2.      Stroke negative
Merupakan suatu bentuk stroke yang menunjukkan pandangan yang mengecewakan atau menyesali, pukulan, tamparan, kata-kata ketas, sikap acuh dll
Sedangkan stroke yang lebih formal adalah tanda peringatan, surat teguran, nilai merah dll. Stroke ini menyebabkan seseorang merasa tidak dihargai dan tidak berarti, dan secara tidak langsung memungkinkan seseorang memiliki dan tumbuh sikap yang defensive untuk mempertahankan diri.
3.      Stroke bersyarat
Dapat diartikan sebagai suatau tanda perhatian yang diperoleh seseorang disebabkan ia telah melakukan sesuatu. Misalnya “saya mau menemanimu belanja, asalkan kau mau membantuku membersikan rumah”.
4.      Stroke tidak bersyarat
Stroke tidak bersyarat atau perhatian tak bersyarat adalah atnad yang diperoleh seseorang tanpa dikenakan persyaratan apapun. Misal “saya akan membantumu dengan sebaik-baiknya”.

ANALISIS TRANSAKSI
Ada 3 transaksi:
  • Transaksi imbang (komplementer),
  • Transaksi  silang,
  • Transaksi  terselubung.
A. Transakasi komplementer
  • Jenis transaksi terbaik dlm komunikasi antar pribadi krn terjadi kesamaan makna thd pesan yg mereka pertukarkan, pesan yg satu dilengkapi oleh pesan yg lain meskipun dlm jenis sikap ego yg berbeda.
  • Transaksi komplementer terjadi antara 2 sikap yg sama à sikap dewasa.
Transaksi terjadi antara 2 sikap yg berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap ortu dan sikap anak-anak.
Transaksi imbang (komplementer)
 
  • Terjadi jika penrima pesan memberi respon  sesuai dengan ego state yg diharapkan oleh pengirim pesan.
  • Contoh: Klien berperilaku sbg anak, Perawat dihrpkan berperansbg orang tua
    Dialog:
     
     
    Stimulus: silakan tunggu, saya akan hubungi dokter unt keluhan Anda ini.
    Respon: terima kasih, saya memang butuh perhatian saat ini
 Transaksi imbang (Dewasa) 

 

Stimulus: dimana yg terasa nyeri?
Respon: di pergelangan tangan kiri saya.
B. Transaksi Silang
 
  • Terjadi jika penerima pesan memberikan respon di luar ego state yg diharapkan oleh pengirim pesan.
  • Akibatnya: kesenjangan/terputusnya komunikasi
  • Contoh: isteri mengapa pulang lambat?
    suami kalau orang baru plg jangan ditanya macam-macam. Ambilkan minum!
  • Contoh lain:  Stimulus: dimana yg nyeri?
    Respon: jika anda tdk keberatan, saya ingin bicara dgn dokter tentang hal ini.
C. Transaksi selubung/tersembunyi
 
  • Transaksi yg terjadi dimana pengirim pesan menyampaikan pesn dari ego state tertentu tetapi dibalik pesan itu ia menyampaikan pesan dari ego state yg lain.
  • Dlm berkomunikasi kita sering  (sebetulnya) mengirim sekaligus 2 pesan à yg diucapkan terang-terangan & yg tersembunyi.
  •  Sikap tersembunyi ini sebenarnya yg paling penting à yg ingin mendpt respon, baik yg tersembunyi di blk kata-kata (verbal) atau non verbal), tetapi ditanggapi lain oleh si penerima.
  • Contoh (T. Selubung) 
    Pada suatu petang Dudung berkunjung ke rumah Nunung. Mereka asyik sekali ngobrol krn ada bahan percakapan yg sangat menarik. Ayah Nunung melihat ke arah jam dinding & berkata, “Hm, sdh pukul 11 mlm.”
    Pernyataan ttg fakta yg disampaikan terang-terangan.
    Pesan terselubungnya: “bukankah sdh waktunya kau pulang, Nak?
T. selubung
  • Tdk semuanya sesederhana itu tujuannya
  • Spt pepatah: “ada udang di balik batu”
  • Kita hrs peka thd traksaksi selubung
  • Ego state yg baik adalah yg mengalir shg dpt digunakan pd kondisi yg cocok, misal dlm menghadapi suatu masalah maka ego state yg cocok adl ego state dewasa, bukan ego state anak atau orang tua.


TAHAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL
Proses konseling Analisis transaksional ini dilakukan setiap transaksi yang analisis. Klien yang nampaknya mengelakkkan tanggung jawab pada dirinya sehingga klien dapat menyeimbangkan egogramnya, mendefinisikan kembali skiptnya serta melakukan instropeksi terhadap games yang dijalaninya.
Tahapan :
1.      Bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien, baik mengenai masalah maupun tanggung jawan kedua pihak
2.      Pada bagian kedua baru mengajarkan klien tentang ego statenya dengan diskusi bersama klien
3.      Membuat kontrak yang dilakukan oleh klien sendiri, yang berisikan tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah kea rah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tau kapan kontraknya akan habis. Kontrak berbentuk pernyataan klien-konselor untuk bekerja sama mencapai tujuan dan masing-masing terikat untuk saling bertanggung jawab
4.      Setelah kontrak selesai, baru kemudian konselor bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling

TUJUAN KONSELING
Tujuan dasar dari Analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memllih telah dibatasi oleh keputusan-keputusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan determistik.
Menurut eric dalam bukunya yang berjudul “Principles of group treatment, (1966), yaitu :
1.      Konselor membantu klien yang mengalami kontaminasi (pencemaran) status ego yang berlebihan
2.      Konselor berusaha membantu mengembangkan kapasitas dari klien dalam menggunakan semua status egonya yang cocok. Ini menyangkut pula dalam memperoleh kebebasan dan kemampuan yang dapat ditembus diantara status egonya
3.      Konselor berusaha membantu klien di dalam mengembangkan seluruh status ego dewasanya.
4.      Membantu klien dalam membebaskan dirinya dari posisi hidup yang kurang cocok serta menggantinya dengan rencana hidup yang baru atua naskah hidup yang lebih produktif

Corey, Gerald. (2005). Teori dan praktek kkonseling dan psikoterapi. Bandung : Rafika Aditama
Mc Leod, John. (2008). Pengantar konseling: teori dan studi kasus. Alih bahasa: A.K. Anwar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Mappiare. Andi. (2010). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada
Hutagalung, Rizky Putri A.S. (2013). Bahan ajar: Psikologi konseling. Tidak diterbitkan. Universitas mercu buana
http://iffahkarimah.blogspot.com/2013/04/analisis-transaksional.html
 
l

Senin, 07 April 2014

tugas psikoterapi ke-2

 A. Terapi humanistik
Istilah eksistensi berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Psikologi Eksistensial atau sekarang berkembang dengan nama psikologi Humanistik atau psikologi holistic berawal dari kajian filsafat yang diawali dari Sorean Kierkigard tentang eksistensi manusia.

Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep- konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan.

Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.

Eksistensial Psychotherapies
Eksistensialis mencari makna eksistensi manusia, dan menekankan pilihan dan individualitas (sebagai lawan dari gagasan bahwa perilaku kita ditentukan dalam beberapa cara mekanistik). Martin Heidegger (1889-1976) biasanya disebut sebagai tokoh filsafat eksistensial modern. Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia adalah proses, terus berkembang untuk setiap individu. Tidak statis, tapi selalu menjadi sesuatu yang berbeda (Hergenhahn, 1992). Unsur-unsur filsafat eksistensial terlihat dalam bentuk psikoterapi yang dikembangkan oleh Ludrvig Binswanger dan lain-lain
Psikoterapis eksistensial fokus pada tema penting dari kehidupan dan masalah klien, tetapi penekanannya adalah pada kualitas hubungan terapeutik itu sendiri sebagai agen penting dari perubahan. Tugas psikoterapi eksistensial adalah menantang klien untuk memeriksa kehidupan mereka dan mempertimbangkan bagaimana kebebasan mereka terganggu. Yang membantu mereka untuk menghilangkan hambatan, meningkatkan rasa pilihan mereka, dan mengerahkan keinginan mereka.
Unsur-unsur Psikoterapi
   a. Filosofis : Visi tentang kehidupan yang baik, orang yang baik, masyarakat yang baik. Agar dapat memahami bahwa nilai-nilai yang secara khusus membentuk sebuah konsep kesehatan mental, visi dari kehidupan dan masyarakat yang baik haruslah bisa diuji. Seorang klien dapat ditanya apakah dia yakin terhadap gagasan liberal, individualisme dan determinasi diri atau mereka cenderung menjunjung tinggi tradisi masyarakat dan perspektif kolektif. Seorang klien bisa jadi percaya bahwa “orang yang baik” tidak boleh menentang terapis yaitu seorang “pakar”,  sehingga dia tidak akan mau menyatakan bahwa bahwa terapi tersebut tidak ada berguna baginya. Pada budaya yang memandang suatu gangguan jiwa dengan stigma tinggi, “orang yang baik” mestinya tidaklah mencari bantuan kepada orang lain, apalagi ke rumah sakit. Suatu “keluarga yang baik” bisa jadi keluarga dimana masalah-masalah tidak didiskusikan secara terbuka, apalagi dengan orang lain, dan sudah tentu, dengan orang asing, misalnya terapis
.b. Kontekstual : Persoalan-persoalan yang terjadi di daerah dimana masyarakat tertentu menetap/ tinggal. Keterlibatan ilmuwan social semakin tinggi apabila mereka berusaha untuk memahami kondisi sscial ekonomi, budaya dan politik dari suatu masyarakat dan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka.
   c. Norma Sosial dan Budaya : Pada suatu waktu, masalah-masalah sosial hanya ditangani pada tingkat individu saja, dan tidak melibatkan masyarakat. Bantuan ditawarkan pada orang-orang yang mengalami penganiayaan atau kekerasan dalam bentuk terapi individu. Namun saat ini masalah sosial mulai ditangani dalam tingkat masyarakat. Contoh intervensi tingkat masyarakat misalnya intervensi komunitas untuk pencegahan kekerasan.

       4. Perbedaan Konseling dengan Psikoterapi :
Konseling ditandai dengan adanya terminologi seperti :
          ·   Educational : Pendidikan
          ·   Vocational : Kejuruan
          ·   Supportive : Yang mendukung
          ·   Situational : Situasi
          ·   Problem Solving : Pemecahan masalah
          ·   Conscious : Sadar
          ·   Awareness : Kesadaran
          ·   Normal : Normal / biasa
          ·   Present Time : Masa Kini
          ·   Short Term : Waktu Singkat
Psikoterapi ditandai dengan  adanya :
         ·  Supportive (dalam keadaan krisis) : Yang mendukung
         ·  Reconstructive : Rekonstruksi
         ·  Dept Emphasis : Penekanan
         ·  Analytical : Analitis
         ·  Focus On The Past : Fokus pada masa lalu
         ·  Neurotics : Neurotik
      · Other Severe Emotional Problem and Long Term : Masalah emosional yang berat dan jangka panjang lainnya.
Menurut Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson & Rudolph (1983) perbedaan konseling dan psikoterapi sebagai berikut :
    a. Konseling untuk
         ·   Klien
         ·   Gangguan yang kurang serius
         ·   Masalah: jabatan, pendidikan
         ·   Berhubungan dengan pencegahan
         ·   Lingkungan pendidikan dan nonmedis
         ·   Berhubungan dengan kesadaran
         ·   Metode pendidikan
    b. Psikoterapi untuk
         ·   Pasien
         ·   Gangguan yang serius
         ·   Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
         ·   Berhubungan dengan penyembuhan
         ·   Lingkungan medis
         ·   Berhubungan dengan ketidaksadaran
         ·   Metode penyembuhan
 
    5.  Pendekatan terhadap mental ILNES :
Menurut J.P. Chaplin  ada beberapa pendekatan psikoterapi terhadap mental illness, yaitu :
    a. Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
    b. Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
    c. Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
    d. Philosopic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

    6. Bentuk Utama Terapi :
    a. Terapi Supportive
      · Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
      · Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
         ·   Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.
    b. Terapi Reducative
Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan. Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.
    c. Terapi Reconstructive
Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.


        II.    Terapi Psikoanalisis (Sigmund Freud)
    1. Konsep dasar Teori Psikoanalisis tentang Kepribadian
     a. Kesadaran
    · Mimpi-mimpi : merupakan representative simbolik dari kebutuhan, hasrat  konflik
         ·  Salah ucap / lupa : terhadap nama yg dikenal
         ·  Sugesti pascahipnotik
         ·  Bahan-bahan yang berasal dari teknik asosiasi bebas
         ·  Bahan-bahan yang berasal dari teknik proyektif
    b. Struktur Kepribadian
         ·  Id
Id berisikan motifasi dan energy positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupak sumber dari dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dll).
        · Ego
Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjembatani anatar id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan berorintasi pada prinsip realita (reality principle). Dalam mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistic dan berfikir rasional.
       · Super Ego
Super ego merupakan cabang dari moril atau keadilan dari kepridadian, yang mewakili alam ideal daripada alam nyata serta menuju kearah yang sempurna yang merupakan komponen kepribadian terkait dengan standar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah.
    c. Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme pertahanan ego merupakan proses mental yang bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan dilakukan melalui dua karakteristik khusus  yaitu :
      · Tidak disadari
      ·  Menolak, memalsukan atau mendistorsi (mengubah) kenyataan.
Pertahanan ini dapat juga diartikan sebagai reaksi-reaksi yang tidak disadari dalam upaya melindungi diri dari emosi atau perasaan yang menyakitkan seperti cemas dan perasaan bersalah. Ego berusaha sekuat mungkin menjaga kestabilan hubungannya dengan realitas, id dan superego. Namun kecemasan begitu menguasai, ego harus berusahan mempertahankan diri. Secara tidak sadar, dia akan bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan-dorongan atau menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang lebih dapat diterima atau tidak terlalu mengancam.

    2. Unsur-unsur Terapi
     a. Munculnya Gangguan
Munculnya masalah/gangguan, Psikoterapi berupaya untuk memunculkan penyebab masalah atau gangguan itu muncul melalui intervensi yang ditinjau dari lingkungan, kepribadian, faktor ekonomi, afeksi, komunikasi interpesonal dan lain sebagainya. Dengan usaha lebih mengenal penyebab gangguan itu muncul klien dapat memperkuat diri agar terhindar dari resiko yang tinggi dengan modifikasi interaksi terhdap lingkungannya 
b. Tujuan Terapi Psikoanalisis
     · Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari idalam diri klien.
   · Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
    c. Peran Terapis
   · Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hub personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
   · Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan.
    ·   Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien.
    ·   Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita klien.
  
    3. Tekhnik-tekhnik Terapi
    a. Free Association (Asosiasi Bebas)

Sebuah teknik sederhana terapi psikodinamik adalah asosiasi bebas di mana pembicaraan pasien dari apa pun yang datang ke dalam pikiran mereka. Teknik ini melibatkan seorang terapis membaca daftar kata ( misalnya ibu , anak dll ) dan pasien segera merespon dengan kata pertama yang datang ke pikiran. Diharapkan bahwa fragmen kenangan direpresi akan muncul dalam proses asosiasi bebas.

Asosiasi bebas mungkin tidak berguna jika klien menunjukkan perlawanan , dan enggan untuk mengatakan apa yang dia berpikir. Di sisi lain, adanya resistensi ( misalnya jeda terlalu panjang ) sering memberikan petunjuk yang kuat bahwa klien semakin dekat dengan beberapa ide direpresi penting dalam pemikiran nya, dan yang lebih lanjut diselidiki oleh terapis disebut untuk.

Freud melaporkan bahwa pasien bergaul bebasnya kadang-kadang mengalami seperti memori emosional yang intens dan jelas bahwa mereka hampir mengenang pengalaman. Ini seperti sebuah “kilas balik” dari perang atau pengalaman perkosaan. Memori stres seperti, begitu nyata rasanya seperti itu terjadi lagi, disebut abreaksi. Jika seperti memori mengganggu terjadi pada terapi atau dengan seorang teman yang mendukung dan salah satu merasa lebih baik - lega atau dibersihkan - kemudian, itu akan disebut katarsis.
b.  Analisis Transference
Fenomena Transference merupakan perasaan (positif dan negatif) yang dikembangkan pasien untuk dokter kapasitas untukinsight. Psikoterapi singkat dan suportif digunakan untuk semua kelainan psikiatri ringan.
    c. Analisis Resistensi
Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
    d. Analisis Mimpi
Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tak terselesaikan.



sumber: http://sindyarsita.wordpress.com/2013/03/25/psikoterapi-terapi-humanistik/
              http://sekarayu08.blogspot.com/2014/03/psikoterapi.html








Kamis, 06 Maret 2014

psikoterapi (portofolio 1)

Nama: zulham.h
Npm: 17511745
Kelas: 3pa11


A.    Pengantar
1.      Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan “Therapy” yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.
Psikoterapi adalah proses yang digunakan profesional dibidang kesehatan mental untuk membantu mengenali, mendefinisikan, dan mengatasi kesulitan interpersonal dan psikologis yang dihadapi individu dan meningkatkan penyesuaian diri mereka (Proschaska & Norcross, 2007).
Psikoterapi adalah perawatan dan penyembuhan gangguan jiwa dengan cara psikologis. Istilah tersebut mencakup berbagai teknik yang kesemuanya dimaksudkan membantu individu yang emosinya terganggu untuk mengubah perilaku dan perasaannya, sehingga mereka dapat mengembangkan cara yang bermanfaat dalam menghadapi orang lain.
2.      Tujuan Psikoterapi
a.   Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
b.  Tujuan psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
c.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
d.  Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, dijelaskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut : untuk menghilangkan kesalah dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus dilakukan oleh klien. Corey (1991) menjelaskan mengenai hal ini sebagai berikut : Terapi perilaku bertujuan secara umum untuk menghilangkan perilaku yang malasuai (mal adaptive) dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif.
e.     Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Corey, et al (1987) sebagai berikut : Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Corey (1991) merumuskan tujuan Gestalt sebagai berikut : membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. unutk merangsangya meneriama tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunialuar.
3.      Unsur-unsur Psikoterapi
Menurut Masserman ada delapan parameter pengaruh dasar yang mencangkup unsur-unsur lazom pada semua jenis psikoterapi, yaitu peran social, hubungan (Persekutuan tarapeutik), hak, retrospeksi, reduksi, rehabilitisi, memperbaiki gangguan perilaku berat, resosialisasi, dan rekapitulasi.
4.      Perbedaan Psikoterapi dengan Konseling
Istilah “psikoterapi” mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada sesuatu yang jelas, yaitu satu bentuk terapi psikologis, yaitu suatu rentangan waawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya.
Perbedaan antara konseling dan psikoterapi dan segi fokus konserennya dan dasar atau landasan kegiatannya. “Psikoterapi” fokus konserennya melalui penyembuhan, penyesuaian, pengobatan, Dasar landasannya psikopatologi. “koseling” fokus konserennya pengebangan-pendidikan-pencegahan, dasar landasannya filsafat.
5.      Pendekatan Terhadap Mental Lines
a.       Biological
Biological, meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin dalam tubuh. Lalu dikembangkan terapi injeksi insulin . juga mulai dikembangkan upaya bedah otak di London.
b.      Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuele pasca-traumatic, kededihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respons emosional penuh stress yang dilimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu. Ini dimulai dari teori psikoanlisis Freud tahun (1856-1939).
c.       Sosiological
Sosiological meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
d.      Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yaitu menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
6.      Bentuk Utama Terapi
a.       Terapi Supportive
Terapi yang bertujuan untuk memperkuat benteng pertahanan diri, memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi kepribadian serta mengembalikan pada penyesuaian diri yang seimbang.
b.      Terapi Reducative
Terapi yang bertujuan untuk mewujudkan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran atau tujuan hidup dan menghidupkan potensi kreatif.
c.       Terapi Reconstructive
Terapi yang bertujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik-konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan mengembangkan potensi penyesuaian yang baru.

   B.     Terapi Psikoanalisis (Sigmund Frued)
1.      Konsep Dasar Teori Psikoanalisis tentang Kepribadian
a.       Kesadaran
             Konsep ketaksadaran
·         mimpi2 → merupakan representative simbolik dari kebutuhan2, hasrat2 konflik
·         salah ucap / lupa → thd nama yg dikenal
·         sugesti pascahipnotik
·         bahan2 yg berasal dari teknik2 asosiasi bebas
·         bahan2 yg berasal dari teknik proyektif
b.      Struktur Kepribadian
·         Id (Das Es)
Id berisikan motifasi dan energy positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupak sumber dari dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dll).
·         Ego (Das Ich)
Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjembatani anatar id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan berorintasi pada prinsip realita (reality principle). Dalam mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistic dan berfikir rasional.
·         Super Ego (Das Uber Ich)
Super ego merupakan cabang dari moril atau keadilan dari kepridadian, yang mewakili alam ideal daripada alam nyata serta menuju kearah yang sempurna yang merupakan komponen kepribadian terkait dengan standar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah. 
c.       Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme pertahanan ego merupakan proses mental yang bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan dilakukan melalui dua karakteristik khusus  yaitu : (1) tidak disadari dan (2) menolak, memalsukan atau mendistorsi (mengubah) kenyataan. Mekanisme pertahanan ini dapat juga diartikan sebagai reaksi-reaksi yang tidak disadari dalam upaya melindungi diri dari emosi atau perasaan yang menyakitkan seperti cemas dan perasaan bersalah. Ego berusaha sekuat mungkin menjaga kestabilan hubungannya dengan realitas, id dan superego. Namun kecemasan begitu menguasai, ego harus berusahan mempertahankan diri. Secara tidak sadar, dia akan bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan-dorongan atau menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang lebih dapat diterima atau tidak terlalu mengancam.
2.      Unsur-unsur Terapi
a.       Muncul Gangguan
Munculnya masalah/gangguan, Psikoterapi berupaya untuk memunculkan penyebab masalah atau gangguan itu muncul melalui intervensi yang ditinjau dari lingkungan, kepribadian, faktor ekonomi, afeksi, komunikasi interpesonal dan lain sebagainya. Dengan usaha lebih mengenal penyebab gangguan itu muncul klien dapat memperkuat diri agar terhindar dari resiko yang tinggi dengan modifikasi interaksi terhdap lingkungannya.
b.      Tujuan Terapi
Membentuk kembali struktur karakter individu dg jalan membuat kesadaran yg tak disadari didalam diri klien   Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
c.       Peran Terapis
Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis, membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan, terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakanklien, mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien.
3.      Teknik Terapis
a.       Free Association
Suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yg berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu.
b.      Analisis Transference
Teknik utama dalam Psikoanalisis krn mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu nya dalam terapi.
c.       Analisis Resisten
Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yg ada dibalik resistensi sehingga dia bisa menanganinya.
d.      Analisis Mimpi

Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tak terselesaikan.

sumber: http://panggilanputri.blogspot.com/2014/03/tugas-portofolio-1-psikoterapi.html
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
-          Prof. Dr . Singgih D.Gunarsa, konseling dan psikoterapi2004, jakarta. PT BPK Gunung Mulia.

Jumat, 03 Januari 2014

sekedar cerita

nama saya julham boleh dipanggil ajum status saya saat ini sebagai mahasiswa universitas gunadarma angkatan 2011 fakultas psikologi kebetulan saya suka dengan sepak bola bisa dibilang pembicaraan saya sehari-hari gak jauh dari hal sepak bola aktivitas saya selain mahasiswa saya juga sering mengadakan futsal bareng sama temen2 saya ..saya gak jago2 amat bermain futsal ya mau gimana lagi yang menilai saya yang melihat saya bermain saya tidak bisa menilai karena saya enggan sombong ...prinsip saya dalam sepak bola ataupun futsal selalu bersungguh2 dan memandang sebelah mata lawan saya dilapangan keseharian saya dirumah kadang nonton video download film.. main games kadang kalo bosen saya main kerumah temen saya atau saudara saya ,,,yah menghilankan rasa bosan aja cari angin segar penampilan fisik saya biasa aja gak spesial dan gak muluk2 ...saat ini yang saya ingin lakukan adalah memperbaiki nilai saya di akademik perkuliahan karena kurang bagus namun saya tetap belajar dan berusaha keras guna memperoleh nilai yang baik..