Senin, 05 Maret 2012

softskill apa saja yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan


PARA pengguna tenaga kerja kerap mengeluhkan lulusan perguruan tinggi (PT) yang berkualitas setengah hati. Bagaimana tidak kecewa, kalau lulusan yang dicetak ternyata kurang tangguh, tidak jujur, cepat bosan, tidak bisa bekerja teamwork, sampai minim kemampuan berkomunikasi lisan dan menulis laporan dengan baik. Mengapa itu bisa terjadi?
Tahun 2001, pihak rektorat ITB pernah menggelar pertemuan dengan berbagai stakeholders penyedia kerja dan pengguna lulusan ITB. Pihak rektorat ITB saat itu menyampaikan imbauan agar perusahaan tidak memotong pelamar kerja semata-mata berdasarkan indeks prestasi (kriteria IP > 2,75). Pertemuan dengan sedikitnya 10 mitra industri itu kemudian membuahkan masukan balik terhadap ITB.
Salah satu respons datang dari perusahaan Schlumberger, yang menyatakan bahwa lulusan ITB kurang tekun meniti karier, sehingga rata-rata memiliki progress career yang kurang baik. Dari 75% intake 20-an tahun lalu, hanya 38% yang mencapai posisi manajer ke atas. Meski punya karakteristik positif, yaitu tingkat intelegensia relatif tinggi, namun boleh dibilang masih kurang dalam sisi kerja keras dan dedikasi.
Dalam dunia kerja, komentar tentang kualitas para sarjana semacam, “pintar sih, tapi kok tidak bisa bekerja sama dengan orang lain” atau “jago bikin perancangan, tapi sayangnya tidak bisa meyakinkan ide hebat itu pada orang lain”, atau “baru teken kontrak 1 tahun tapi sudah mundur, kurang tahan banting, nih,”, bukannya tidak jarang telontar. Tentunya hal itu bisa menjadi bahan evaluasi, bukan hanya bagi kampus tertentu, tetapi juga seluruh kampus di tanah air tanpa terkecuali.
Ada kecenderungan apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhnya serasi dengan kebutuhan di lapangan kerja. Sebagian besar menu yang disajikan, boleh dibilang berupa keterampilan keras (hard skill). Padahal, bukti-bukti menunjukkan penentu kesuksesan justru kebanyakan adalah keahlian yang tergolong lunak (soft skill).
Simak saja survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA (2002), kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-turut adalah kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi (IP >= 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha.
IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa, dalam indikator orang sukses tersebut ternyata menempati posisi hampir buncit, yaitu nomor 17. Nomor-nomor yang menempati peringkat atas, malah kerap disangka syarat basa-basi dalam iklan lowongan kerja. Padahal, kualitas seperti itu benar-benar serius dibutuhkan

apa keterkaitan softskill,hardskill terhadap dunia dunia kerja kuliah


Perpaduan antara hardskill dan softskill sangat diperlukan untuk meraih jenjang karir yang tinggi atau memperluas bisnis di masa depan. Banyak lulusan dari perguruan tinggi baik itu negeri dan swasta yang tidak siap menghadapi dunia nyata atau dunia kerja. Persaingan yang ketat kita di tuntut untuk memiliki kempuan yang lebih bukan hanya kemampuan Hardskill (nilai IPK yang tinggi) tetapi kita di tuntut untuk memiliki sebuah kompetensi seorang lulusan.
Berikut ini kompetensi lulusan yang di harus dimiliki didalam menghadapi persaingan di dunia nyata :
  • Komunikasi tertulis
  • Bekerja dalam tim
  • Teknologi
  • Berpikir logis
  • Berkomunikasi lisan
  • Bekerja mandiri
  • Ilmu pengetahuan
  • Berpikir analitis
Kemampuan-kemampuan di atas sebenarnya kita bisa dapatkan semasa sekolah, kuliah. Organisasilah yang bisa membentuk seseorang bisa memiliki kemampuan-kemampuan di atas. Maka dari itu, kini banyak kampus yang memasukkan pelajaran softskill ke dalam mata kuliah agar kampus dapat mendidik mahasiswa untuk dapat memiliki kemampuan softskill yang akan dipakai di masa depan mereka.

apa perbedaan hardskill dan sofskill

Saya cukup terkejut saat mengetahui salah satu mata kuliah yang saya ambil di semester 5 kemarin, yang termasuk dalam mata kuliah softskill ternyata mendapat nilai "P" yang artinya harus mengikuti perbaikan. Saat itu saya jadi ingin lebih mengetahui apa sih yang softskill itu? Seberapa penting softskill berperan dalam kehidupan? Lalu bagaimana dengan Hardskill? Dan begitu banyak pertanyaan lain yang ada dalam benak saya.
Dari beberapa sumber yang saya dapat, saya menyimpulkan bahwa softskill adalah kemampuan atau keterampilan seseorang yang menyangkut kehidupan sosialnya yang lebih menekankan pada EQ (Emotional Intelligence Quotient)seseorang dibandingkan IQ nya.
Sedangkan hardskill adalah kemampuan seseorang yang menekankan pada IQ, yaitu kemampuan seseorang dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kemampuan teknis lainnya yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Lantas apakah perbedaan antara keduanya? Hardskill adalah kemampuan seseorang yang sifatnya visible, sehingga orang lain dapat dengan segera melihat apakah orang tersebut memiliki kemampuan dibidangnya atau tidak saat diuji untuk melakukan sesuatu dibidangnya masing-masing. Sedangkan softskill bersifat invisible sehingga orang lain tidak dapat langsung melihat dengan segera softskill seseorang. Misalnya kemampuan seseorang dalam beradaptasi atau kemampuan seseorang dalam memimpin.
Lalu, mana yang lebih baik dari keduanya? Jawabannya sangat sederhana, Softskill dan Hardskill adalah dua keterampilan yang harus saling mendukung. Keduanya harus berjalan dan tumbuh secara seimbang. Karena lulusan yang baik adalah lulusan yang memiliki keseimbangan antara softskill dan hardskill.
sumber: http://nurendahsari.blogspot.com/2010/02/antara-softskill-dan-hardskill.html

apa yang dimaksud sofskill


Soft skill menyangkut karakter pribadi seseorang yang dapat meningkatkan interaksi individu, kinerja pekerjaan dan prospek karir. Tidak seperti hard skill  yang berkenaan dengan kemampuan menyerap ilmu atau keahlian dan kemampuan untuk melakukan jenis tugas atau kegiatan tertentu, soft skill berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dengan sesamanya  baik di dalam dan di luar tempat kerja. Soft skills adalah bentuk kompetensi perilaku sehingga dikenal pula sebagai keterampilan interpersonal atau people skills, yang mencakup keterampilan komunikasi, resolusi konflik dan negosiasi, efektivitas pribadi, pemecahan masalah secara kreatif, pemikiran strategis, membangun tim, keterampilan mempengaruhi dan keterampilan menjual (gagasan atau ide).
Dari  definisi soft skills di atas dapat ditarik kesimpulan orang yang mempunyai soft skills tinggi adalah orang yang berbudi pekerti, yang mampu mengontrol emosinya dan itu tergambar dalam budi bahasanya, dalam caranya berkomunikasi , perilakunya tidak grusa grusu, satunya kata dan perbuatan atau berintegritas tinggi, tenggang rasa dan toleransi tinggi
Persoalannya adalah mengapa para sarjana lulusan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia tidak mesti menunjukkan karakter orang yang berbudi pekerti ? Buktinya mudah ditemukan saat kita lihat debat di lembaga DPR yang terhormat yang kerap ditayangkan TV. Mengapa mereka berdebat seperti hanya adu kepandaian dan penguasaan ilmu, pengin menonjolkan diri, merendahkan lawan debat dan tidak berusaha menemukan titik temu guna mendapatkan solusi?  Akhirnya debat di parlemen jadi tidak mendidik orang tentang cara bernegosiasi dan mencapai kesepakatan tapi jadi arena adu mulut yang membosankan dan penuh dengan hujan interupsi. Hal sama dapat ditemukan saat  pejabat birokrasi memberikan pernyataan tentang suatu problem publik. Seringkali mereka mengeluarkan statement yang tidak focus ke pemecahan masalah terkait dengan tanggungjawabnya malahan menyalahkan atau mencari kambing hitam guna berkelit atau melepaskan diri dari tanggungjawab.
Melihat fenomena rendahnya soft skills di kalangan kaum terpelajar membuat saya jadi khawatir jangan-jangan perilaku yang sama juga ada di diri saya. Seringkali saya menuntut ke mahasiswa harus ini itu, begini begitu, menghujani mereka dengan kotbah soal moral dan etika. Tapi , apakah perilaku saya, kinerja saya sebagai guru dan dosen selama ini bisa memberikan teladan ke mahasiswa sehingga saya cukup pantas untuk mengkotbahi mereka cara berinteraksi dan berkomunikasi yang sopan, cara menghargai orang lain. Jangan-jangan saya selama ini hanya bisa menuntut ke mahasiswa untuk menghargai saya, untuk bertutur sopan ke dosen, tapi aturan ini tidak berlaku saat saya berkomunikasi dengan mereka , saya bebas membentak mereka, saya bebas memaksa mereka agar manut dengan aturan yang saya buat. Kalau saya sebagai dosen berperilaku semacam ini gimana ya mahasiswa itu menilai saya? Jangan-jangan mereka itu patuh, segan atau bahkan takut pada saat di depan saya saja tapi akan mempergunjingkan atau bahkan melontarkan sumpah serapah apabila saya tidak ada

Jadi, kalau saat ini kita resah dengan perilaku murid atau mahasiswa yang semakin tidak menghargai guru atau dosen, maka sebagai orang tua, guru dan dosen  kita harus bertanya dan menggugat diri kita sendiri : Apa yang selama ini telah kita ajarkan ke anak-anak kita itu ya kok mereka jadi tidak mengenal sopan santun? Apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia sehingga yang diproduksi adalah anak-anak didik yang ber-soft skills rendah ?
Jika soft skills itu menyangkut pembentukan karakter , kita jadi bertanya apakah pendidikan karakter dan akhlak yang  diberikan sejak di TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi itu masih kurang? Kalau ternyata porsi pendidikan karakter yang selama ini ada di pelajaran Agama dan PKN itu ternyata kuantitas dan kualitas sudah cukup, terus apa lagi yang kurang? Saya tidak mempunyai kapasitas dan kompetensi untuk menjawab pertanyaan ini. Namun saya akan mencoba memberikan gambaran tentang apa itu materi yang biasanya menjadi bagian dari pembentukan soft skills yang saya temukan di berbagai sumber di internet. Semoga saja informasi ini bisa memberi gambaran tentang apa yang masih kurang atau mungkin tidak bisa disampaikan melalui pelajaran agama dan PKN di sekolahan

sumber: http://sriyuliani.staff.fisip.uns.ac.id/kuliah/apa-itu-soft-skills/


Minggu, 22 Januari 2012

sebuah puisi

angin
terus berhembus tiada kasih dan tiada duka
semua berlalu begitu saja  tidak ada stupun yang mengerti
apa arti hidup ini yang sebenarnya

Sabtu, 14 Januari 2012

awal mula suka dengan sepak bola

waktu itu ketika saya kelas 3sd saya mulai menyukai sepak bola pada saat itu tim yang saya jagokan
adalah tim dari liga belanda ajax amsterdam nah dari situ saya mengamati permainan mereka lambat laun
saya mencoba tuk melihat liga inggris dan wow
menabjukan .......manchester united benar2 memukau ada giggs,scholes,beckham dan banyak lagi pemain united yang menjadi inspirasi saya
mereka benar-benar memainkan sepak bola modern liga inggris memang yang terbaik menurut saya berdecak kagum saya melihat tim-tim liga inggris persaingan ketat tensi tinggi derbi sekota
membuat saya merasakan atmosfer dan tegangan tertinggi walau menyaksikanya dari televisi hehehhe...
itulah awal mengapa saya suka sepak bola...jadi tidak heran inilah sebabnya
ketika itu saya diajak bermain sepak bola di klub dekat rumah saya namun saya hanya mengerti bermain passing aaja blom mengerti secara keseluruhan

ketika saya pindah sekolah sedih rasanya namun harus saya pahami...yah jalani aja waktu sd saya bgtu polos
dan tidak pernah berbohong skalipun ....saya tidak cuma melalui televisi namun di video games saya juga bermain sepak bola...selain sepak bola saya menyukai futsal alternatif lain kalo misalkan cuaca tak mendukung ada baiknya kita main in door.....
 moment saya tak lupakan ketika manchester united menjuarai liga champion 2008 ketika itu bnar -bnar moment istimewa buat saya sebagai manchunian sejati..

musuh yang paling saya hormati adalah....liverpool,barcelona dan milan...

meskipun saya fans berat manchester united tetapi saya menyukai tiki-taka barcelona
inspirasi dalam tehnik futsal.. ya ya sangat menarik sekali...

Kamis, 12 Januari 2012